Lebaran sebentar lagi tiba. Ajang setahun sekali ini merupakan puncak waktu sibuk bagi industri penerbangan nasional. Bagi Anda yang ingin mudik atau liburan menggunakan angkutan udara, inilah saatnya waktu sibuk untuk berburu tiket pesawat. Cobalah perhatikan tips dibawah ini.
1. Rencanakan perjalanan jauh-jauh hari. Dengan demikian anda dapat berburu tiket dengan kemungkinan mendapatkan tiket yang sesuai jadwal dan kondisi keuangan Anda, jauh lebih besar.
2. Taruhlah nama Anda di agen travel perjalanan. Minta tolong kepada petugasnya untuk menghubungi Anda jika sewaktu-waktu ada tiket murah yang sesuai dengan jadwal dan kondisi keuangan Anda. Sistim online yang diterapkan oleh maskapai dan travel agen berimplikasi petugas agen travel mengetahui semua tiket dan harganya di setiap penerbangan.
3. Berburu tiket lewat internet (website maskapai). Pembelian tiket lewat internet mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi. Jika memungkinkan, lakukanlah.
4. Hindari penerbangan di hari sibuk seperti Jumat malam hingga Senin pagi. Hindari juga jam-jam sibuk. Pagi dan malam hari biasanya penerbangan lebih longgar karena tidak banyak penumpang yang menyukainya.
5. Ikutlah program frequent flyer sebuah maskapai jika Anda sering melakukan penerbangan. Anggota program ini biasanya akan diprioritaskan dalam membeli tiket.
6. Jika terpaksa masuk waiting list, tidak rugi jika nama Anda ditaruh dalam daftar tersebut. Jika akhirnya Anda terpilih namun tidak jadi terbang, tiket bisa dibatalkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Jangan membeli tiket dari calo. Pembeli maupun penjual tiket melalui atau penjual tiket yang tidak resmi bisa dikenakan sanksi pidana.
2. Harga tiket akan terkait dengan pelayanan yang akan Anda dapatkan. Tiket yang murah mempunyai banyak keterbatasan. Tanyakan dahulu ada petugas penjualan, apa saja kondisi dan aturan dari tiket Anda.
3. Jika harga melebihi ketentuan yang ditetapkan pemerintah, Anda bisa komplain.
Sumber: Kompas
Category Tips |
Pada tahun 1981, Ny Ngantung Rompis atau lebih akrab disapa Tante Suli membuka sebuah warung Tinutuan (bubur Manado) di Jalan Wakeke, Manado, Sulawesi Utara. Warungnya ramai, dan sejak saat itu satu per satu warga yang tinggal di Wakeke mengikuti langkahnya.
Hal itu diungkapkan oleh Ronny, pemilik Pondok Bambu, yang juga menjajakan Tinutuan, Januari silam. Warung miliknya berhadapan dengan rumah Tante Suli.
Hingga saat ini nyaris semua rumah di tepi Jalan Wakeke telah menjadi warung untuk menikmati semangkuk Tinutuan. Jalan Wakeke yang panjangnya kurang dari 1 kilometer pun dinobatkan menjadi kawasan wisata makanan tradisional Tinutuan, pada tahun 2004.
Kalau diperhatikan, Tinutuan di sini penampilannya berbeda dengan bubur Manado yang kerap dijual di Jawa. “Bubur di sini bahannya dari labu merah, beras, dan singkong. Kalau ada orang yang mau makan ditanya pakai sayur apa, bayam, kangkung, atau daun gedi. Daun gedi hanya ada di Manado,” ujar Ronny.
Tinutuan saat ini, kata Ronny, agak berbeda dengan yang umumnya dimasak pada zaman dulu. “Kalau dulu labu merah dipotong besar-besar dan masaknya terpisah. Kalau sekarang labu merah dijadikan seperti adonan lembut dan dimasak bersama beras dan singkong. Itu dimasak kalau ada yang pesan saja. Dengan cara ini labu merah tetap segar sewaktu disajikan.”
Ronny mengaku setiap hari menghabiskan 3 buah labu merah ukuran besar. Di Manado, labu merah juga dikenal dengan nama sambiki.
Selain Tinutuan, warung-warung di Wakeke juga menjajakan makanan khas Manado, seperti mi ikan cakalang dan nike goreng. Nike adalah ikan-ikan kecil yang hanya
ada di Danau Tondano.
Meski di sepanjang jalan ini terdapat banyak penjual Tinutuan, menurut Ronny tak ada persaingan harga. “Semua warung sudah punya pelanggan sendiri-sendiri.”
Menemukan Jalan Wakeke tidaklah sulit. Selain letaknya di tengah kota, ada papan petunjuk besar yang melintang di pintu masuk ruas jalan satu arah ini. Pukul 7 pagi, orang-orang yang hendak sarapan mulai memenuhi jalan ini.
Artikel Terkait:
- Tinutuan
Tags: Makanan Indonesia
Category Artikel |
Tinutuan atau Bubur Manado adalah makanan khas Indonesia dari Manado,Sulawesi Utara. Ada juga yang mengatakan tinutuan adalah makanan khas Minahasa,Sulawesi Utara. Tinutuan merupakan campuran berbagai macam sayuran, tidak mengandung daging, sehingga makanan ini bisa menjadi makanan pergaulan antar kelompok masyarakat di Manado. Tinutuan biasanya disajikan untuk sarapan pagi beserta berbagai pelengkap hidangannya.
Kata tinutuan tidak diketahui asalnya. Sejak kapan tinutuan menjadi makanan khas kota Manado tidak diketahui dengan jelas. Ada yang mengatakan tinutuan mulai ramai diperdagangkan di beberapa tempat di sudut kota Manado sejak tahun 1970. Ada juga yang mengatakan sejak tahun 1981.
Tinutuan dipakai menjadi motto Kota Manado sejak kepemimpinan walikota Jimmy Rimba Rogi dan wakil walikota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010, menggantikan motto Kota Manado sebelumnya yaitu Berhikmat.
Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata setempat pada tahun 2004 (ada juga yang mengatakan pada pertengahan tahun 2005) menjadikan kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado sebagai lokasi wisata makanan khas Tinutuan.
Bahan pembuatan tinutuan sederhana. Tinutuan merupakan campuran berbagai macam sayuran yaitu labu kuning yang juga disebut sambiki, beras, singkong, bayam, kangkung, daun gedi, jagung,kemangi.
Tinutuan ini biasanya disajikan untuk sarapan pagi.Tinutuan dapat disajikan dengan ikan asin serta berbagai macam pelengkap hidangan.
Tinutuan, di Manado, disajikan dengan perkedel nike, sambal roa (rica roa, dabu-dabu roa), ikan cakalang fufu atau tuna asap, perkedel jagung. Tinutuan juga bisa disajikan dicampur dengan mie atau dengan sup kacang merah yang disebut brenebon.
Tinutuan yang disajikan bersama mie disebut midal, dimana akhiran dal tersebut berasal dari kata pedaal yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan yang merupakan wilayah subetnis Tountemboan di Minahasa.
Tinutuan juga dapat dicampur dengan sup kacang merah yang disebut brenebon. Tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini kadang juga ditambahkan tetelan sapi, yang konon dipercaya orang yang memakannya dapat menarik “roda” (gerobak). Pada komunitas Kristen di Manado, tinutuan yang dicampur dengan brenebon ini dapat juga disajikan khusus yaitu dengan ditambahkan kaki babi, biasanya pada acara khusus seperti acara tumpah makan yaitu pada hari pengucapan syukur di Manado.
Tags: Makanan Indonesia
Category Artikel |
Artikel 1
Category Artikel |
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Category Uncategorized |